Subnetting Classfull dan Classless
a.
Classfull
Classfull
secara sederhana dapat diartikan "dengan kelas" atau
"menggunakan kelas". Jika dikaitkan dengan pengalamatan IP, pengalamatan
IP classful dapat diartikan menjadi "pengalamatan IP berdasarkan
kelas". Pengalamatan dengan metode ini ada pada pengalamatan IPv4 yang
dibagi menjadi kelas A, B, C, D, dan E. Pengalokasian host pada jaringan dengan
menggunakan sebuah subnet mask yang sama, biasanya menggunakan protocol RIPv1
dan IGRP, dimana protocol ini tidak mempunyai field untuk menyimpan informasi subnet sehingga
informasi-informasi subnet tidak dikirimkan.
b.
Classless
Classless
secara sederhana dapat diartikan "tanpa kelas" atau "tidak
menggunakan kelas". Jika dikaitkan dengan pengalamatan IP, pengalamatan IP
classless dapat diartikan menjadi "pengalamatan IP tanpa mengenal
kelas" dengan cara menggunakan Classless-Inter Domain Rouing (CIDR) atau
juga dapat dikenal dengan istilah panjang prefiks. Format pengalamatannya
adalah dengan memberi tanda slash (/) di belakang alamat IP kemudian diikuti
dengan variabel panjang prefiks.
c.
Subnetting
Pada
dasarnya subnetting adalah mengambil bit-bit dari bagian host sebuah alamat IP
dan me-reserve atau menyimpannya untuk mendefinisikan alamat subnet.
Konsekuensinya adalah semakin sedikit jumlah bit untuk host. Jadi semakin
banyakjumkah subnet, semakin sedikit jumlah bit yang tersedia untuk
mendefinisikan hostbit.
Subnetting
adalah teknik untuk membagi atau memecah atau bahkan untuk memotong blok IP
address IPv4 pada kelas A,B, dan C menjadi blok IP address yang lebih kecil.
Subnetting juga merupakan pembagian sebuah jaringan ke dalam beberapa
subjaringan (sub-network = subnet) yang lebih kecil dimana masing-masing
memiliki alamatnya sendiri. Secara umum terdapat beberapa tujuan dari melakukan
subnetting, yaitu:
a.
Untuk mengefisienkan jumlah host
dalam jaringan kecil dimana jumlah hostnya tidak sampai 254 buah.
b.
Untuk mengurangi kepadatan lalu
lintas jalur data pada jaringan besar yang jumlah hostnya hampir mencapai 254
atau bahkan lebih dengan cara membaginya menjadi beberapa jaringan yang lebih
kecil yang kemudian dihubungkan dengan perangkat router.
c.
Untuk memotong jumlah host yang
dapat terhubung ke jaringan dengan alasan keamanan.
d.
CIDR
(Classless Inter Domain Routing)
Perhitungan
subnetting pada CIDR merupakan perhitungan lanjutan mengenai IP Addressing
dengan menggunakan metode VLSM ( Variable Length Subnet Mask ), namun sebelum
membahas VLSM perlu direview terlebih dahulu subnetting menggunakan CIDR. Pada
tahun 1992 lembaga IEFT memperkenalkan suatu konsep perhitungan IPAddress yang
dinamakan supernetting atau classless inter domain routing (CIDR),metode ini
menggunakan notasi prefix dengan panjang notasi tertentu sebagainetwork prefix,
panjang notasi prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yangdigunakan
sebagai Network ID, metode CIDR dengan notasi prefix dapat diterapkanpada semua
kelas IP Address sehingga hal ini memudahkan dan lebih efektif.Menggunakan
metode CIDR kita dapat melakukan pembagian IP address yang tidakberkelas
sesukanya tergantung dari kebutuhan pemakai.
Notasi
slash seringkali digunakan dalam classless addressing yang dikenal sebagai
notasi CIDR (classless inter-domain routing). Sebelumbnya diketahui bahwa mask
tersusun atas sejumlah bit 1 diikuti oleh sejumlah bit 0.
Contoh :
255.255.255.224
atau
11111111 11111111 11111111 11100000
Di dalam mask tersebut terdapat
sebanyak 27 bit 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar